The Elders Legacy

The elders programming language in the form of art,celebrations, contemplation practices and spiritual wisdom in daily life, which shaped what Jungian psychologist says as Collective Unconscious of the Balinese society complete with its Archetypes, as guidance which has made Bali as what it is now. Their legacy is not about conflict between heaven and hell, but about transforming hell into heaven, and transcending heaven into Divine Ultimate Peace and Bliss, in the very present of time, as the only moment which is exist in life.

For centuries, Balinese people have been living by coloring their life with art and integrating their creativity with the creativity of the nature, producing a magnificent quality of a civilization, which is not depending their qualities on material value, but psychological quality growth. Simple society based economic system, which is supported by the needs of spirituality practice in the form of ceremonial and colorful festival, which has protected their existence for centuries in the middle of majorities penetration. Even their existence shines brighter.

Have we treated this legacy well? Or we start to bury it in the sake of economy and others land?

I’m not saying that Bali is the only place in this country which has such potential, but unfortunately many places have lost their character by sinking their legacy  deeply and killed their potential in the name of modernization, intellectual and blind faith. The blind faith which insist uniformity and kill freedom of creativity, which should be the seed of a great civilization. In this point , I agree that somehow, blind faith has become a talented architect of their Ego, and then becomes the greatest illusion of their life, in the form of control and conflict, far from the Balinese highest goal of life which is Ultimate Peace and Bliss.


Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Advaita Vedanta

Perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini mungkin ada sebuah cerminan ke mana arah pergerakan kesadaran universal manusia. Mungkin bisa dibilang kalau memang ini yang “diinginkan” oleh kesadaran universal tersebut. dan setiap manusia yang mempunyai peranan dalam membawa dunia ini ke arah apa yang umat manusia capai sekarang, adalah alat-alat yang digunakan oleh kesadaran universal itu untuk berevolusi ke arah yang “diinginkannya”.

Lalu ke mana sebenarnya arah evolusi itu? saya kira arahnya adalah ke arah yang nantinya akan membuat understanding kita berubah terhadap bagaimana kita memahami realita ini. Kearah kesatuan, buakn dalam artian kesatuan Idiologi atau keyakinan, tapi kesatuan pemahaman bagaimana realita itu bekerja dan apa substansi dari realita kita sebagai manusia. Sehingga kita akan menyadari bahwa keberagaman itu berasal dari substansi yang sama, yang nantinya membuat kita akan menghormatinya lebih dalam, bukan karena disuruh orang lain, tapi karena pengalaman kita sudah menyadarinya.

Selama ini bagi pandangan konvensional menganggap, seolah-olah ada 7 milyar kesadaran membagi 1 dunia yang sama. tapi kalau kita mengacu pada pengalaman kita, kita tidak pernah menemukan dunia yang sama untuk tiap manusila, semua manusia mempersepsekan dunia ini berbeda stu sama lain. seorang manusia tidak bisa membagi persepsinya tentang dunia dengan orang lain dalam bentu persepsi yang sama. Persepsi tentang dunia ini bersifat privat untuk setiap manusia, termasuk dunia pikiran. Untuk itu dalam pemahaman Advaita Vedanta dan Kaum mistic, mempunyai pandangan yang berbeda terhadap bagaimana ini hadir dalam kesadaran kita. Advaita dan Mistik lebih menekan kan perspektif pengalaman. Pemahaman ini menempatkan Kesadaran sebagai satu kesatuan Universal dan dengan kekuatan Maya, memunculkan Ego yang membuat seolah olah kesadaran tersebut terpisah satu sama lain, dan dari tiap tiap Ego ini mempunyai persepsi yang berbeda-beda terhadap dirinya sendiri, yang kemudian menghasilkan 7 milyar Dunia(persepsi) yang berbeda-beda. Seperti relasi gelombang dan lautan, hanya pesepsi manusia (Maya) yang melabelinya menjadi gelombang dan lautan, padahal esensi dari keduanya adalah satu kesatuan yang sama.

Lalu kemudian muncul sebuah pertanyaan, kenapa ada konsistensi antara 7 milyar dunia tersebut ? Kita bisa katakan kalau 7 milyar dunia itu berasal dari 1 Kesadaran yang sama.

Kalau saya ambil analogi untuk menjelaskan ini, contoh yang paling pas adalah Permainan Game Online. Internet/Server adalah 1 Kesadaran Universal, Client adalah Ego, dan Game di tiap tiap screen di client adalah Dunia dunia persepsi yang digenerate oleh Client berdasarkan informasi yang di download dari Kesadaran sang Server di Internet. Setiap client akan membentuk Dunia yang berbeda berdasrkan peran dan event yang diterima si client tersebut.

Salah satu contoh lain adalah bagaimana pemahaman Advaita Vedanta, tentang realita, dimana dengan jelas menempatkan Subject sebagai peran yang paling crusial dalam penciptaan kwalitas objective seperti materi. hal ini terbukti dalam Quantum Physic dalam Double Split Experiment. Di level Quantum, partikel hanya menjadi partikel saat ada pengamat yang mempersepsikanya, tanpa pengemat, semua materi ini hanyalah potensi murni, yang bahkan lebih jauh oleh pemahaman Advaita Vedanta, juga berasal dari substansi yang sama dengan Subject sebagai pengamatnya. Oleh sebabitulah pemahaman ini di sebut Advaita(non dualisme) yang berarti Hanya Satu tanpa yang kedua, yang bermakna dualisme subject dan object pun hanya persepsi semata, (Atman dan Brahman tidaklah berbeda).


Inilah yang membuat saya yakin bahwa setiap manusia mempunyai peranan yang berbeda beda untuk mengarah pada tujuan yang sama, sebuah pemahaman tentan kesejatian dirinya sebagai satu kesatuan Kesadaran. bukan keterpisahan

Menarik bukan?

Go Beyond Your Mind

If somebody ask you to go beyond your mind, where will you go? All space outside you, as soon as it becomes your experience or perception, will be covered by your mind, including your dream. The only place you possibly go to experience “Beyond mind” is at the source of it, which is You. There you can fully understand Beyond Mind stuff which means including beyond time and space, beyond start and end, beyond all reasons,  beyond all questions,  cuz all of those stuff is the product of your mind . Without those experience of complete peace and perfection,  you can only be possible to touch the philosophical layer of this Truth.

Advaita Vedanta (Summary Knowledge of Non Dualism)

Infinity(Brahman) can not know anything other than Itself, because if this Infinity knows something other than Itself, it’s not Infinity anymore. In order to know other than Itself Infinity finite itself(Isvara) than perceiving something which should also came from Itself. This sense of separation(Maya) is a grate power that creating duality then reality(Shiva as Infinity  and Shakti as Maya)

All things, whether it physical in this dimension or in another dimension(if it’s exist), including space, or non physical such as the thoughts, feelings, sensations, perceptions, intellect and ego, are the things which seems like separate or appear as another things out of from this Infinity, because the great power of Maya. If we go deeply into our own experience, and see what are those things made of? There is only one substance from all of those stuff, which is experience or knowledge(Veda). And then what is this experience made of? There is no other thing it can be made of, except from that Pure Infinity Itself, Pure Consciousness Itself(Brahman/Atman).

The Base Meditation

All things, whether it is physical matter, such as the world, the body, including the spaces, or non-physical stuff, such as thoughts, the world of dream, feelings, intellect and ego (sense of separateness), are an experience/perception/knowledge.

And if all things are made of the experience, then what is experience made ​​of?

What is the base of all experience?

And that Base should also be the base of all things above, whether it’s physical or non physical.


And then,what ever  there after death, heaven, hell, or even emptiness, should also an experience and should also be made by this Stuff…

What is this Base?

An answer for this should not be valid, because it must come from the mind, as explain above, is also made of an experience, meaning made of this Base also.

The only way to understand It, is just by returning back to It.

Just like the wave(of experiences) returning back as an Ocean, which is always there, never separate from  the wave, in fact the wave is made from It and inseparable with another wave and with the Ocean its self.

So, what is this “Ocean”? what is this Base?


There is Something not made from matter or anything which can be perceived by the senses or the mind.

In fact this Something is the perceiver of everything experienced by the senses and the mind.

No shape or taste, no start or end for its existence. Always here.

Not in a place or space, not moving through time, it is the time which is moving through it.

It is the center of all experience of reality, dream or even deep sleep.

The center of the space and time.

The whole universe is made from and by It,

where the senses is the factory and the experience is the material which are also made from It.

Some call it the Heart, some call it The Self, the Love or The Life


Time is coming and going,
Shape is coming and going,
Feeling is coming and going,
Thought is coming and going,
Sensation is coming and going,
All of those forms happiness and unhappiness or even life.

And then life is also coming and going.
But Something is still, never go, always here watching,
Something that experience,
Something that aware,
about all of those thing that coming and going.

The Way I Am

The way is I Am

I Am the center of the mandala

Everything turns around Me

I Am not moving, everything is moving through Me

Coming and going

That is what they call movement

But I never move, completely still

Ever present right here right now

The senses is the screen

Where the movie of life plays

Where the illusion of movement take place

Where the time is just another delusion

I Am just staying here watching

I Am is the way.

Beringin dan Burung Gereja

Nur menghentikan langkah di sebuah gapura yang terbuka di hadapannya. Menatap sosok asing yang duduk tepat simetris di tengah. Seorang Laki-laki yang sepertinya sangat menikmati sikap duduknya. Punggung yang tegak lurus dari tulang ekor hingga kepala, bersila dengan telapak tangan yang dilipat rapi di pangkuan, serta otot-otot yang sepertinya pasrah pada tarikan gravitasi tanpa perlawanan berarti.  Setangkai dupa dengan wangi yang menenangkan hati, tertancap tak jauh dari tempat laki-laki itu bersila. Bayangan pohon beringin yang ditiup angin terlihat seperti membelai sebagian tubuh kurusnya. Ditambah senyum sederhana yang seakan meluluhkan semua beban, mencair dan mengalir ke pangkuan Ibu Pertiwi. Tak lama berselang, sehelai daun beringin terayun lembut, perlahan namun terarah, yang jatuh di telapak tangannya, juga turut menghiasi suasana. Sungguh pemandangan yang jarang dialami Nur, walaupun dia sebenarnya sering mondar-mandir di sekitar area Pura tempat laki-laki itu duduk dengan sikapnya yang sempurna.

Sejenak Nur menikmati suasana yang dibawa angin dan cahaya ke hidung, telinga, mata bahkan kulitnya. Di dalam hati dia bertanya siapa dia dan apa yang membuat dia begitu tenang, tanpa jeda, terus melontarkan senyum dari bibirnya.  “Bolehkah aku turut duduk dan mulai bertanya?”, harapnya dalap hati. Beringin dan tiupan angin tak memberikan jawaban pertanyaan Nur, sampai akhirnya dia memilih untuk duduk di undakan gapura, menatap sang laki-laki dengan binar mata penuh tanda tanya dan dan larut dalam suasana.

Dharma tetap diam tak bergeming sedikitpun. Gerak sehelai daun beringin yang kali ini tertiup angin ke pergelangan tangannya, seakan tak terasa indra peraba. Mungkin karena dia sibuk mengamati otak  yang seakan memutar berbagai cerita yang tersimpan dalam pikirannya. Segala hal di luar seakan tak terasa. Yang ada hanya dia dan frame demi farme cinema kehidupan yang diputar kembali oleh proyektor pikiran dalam kepalanya. Sampai akhirnya, proyektor itu seakan letih dan memperlambat putaran klise sampai ke titik dimana kali ini hanya ada Dia dan nafasnya.

Di dalam hati Nur bertarung, antara rasa ragu untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam area Pura, dan keinginannya ikut menikmati ketengan. Keraguan yang muncul dalam hatinya karena Pura adalah tempat yang asing baginya. Dia sungkan dan takut berbuat kesalahan. Namun kali ini ada keinginan besar dalam hatinya untuk ikut menikmati apa yang Dharma nikmati di dalam sana. Setelah beberapa lama larut dalam lamunan, dia akhirnya memutuskan untuk berdiri, menengadahkan wajahnya ke angkasa dan mulai menutup mata. Suara gesekan daun beringin yang dihempaskan angin terdengar begitu indah ditangkap telinganya saat itu. Lambat laun hatinya serasa berbisik, memerintahkan kakinya untuk memulai mengambil langkah, memberanikan diri masuk ke dalam, melewati gapura. Bukan megahnya candi dan gapura yang membuatnya terpesona kali ini. Tapi sebuah kombinasi angin, beringin dan bau mewangi dari dupalah yang mencuri perhatian, mengusik hati dan menenggelamkan dirinya pada kerinduan akan arti ketenangan yang membuat dia terpesona. Setibanya di sebelah Dharma, Nur mulai duduk bersila dengan sikap sempurna, dan kembali menutup matanya. Dia membuka dialog dengan dirinya. Tak lagi ada kecanggungan dalam hatinya. Saat ini dia hanya ingin menikmati kedamaian yang begitu nyata. Sampai pada suatu titik dia berucap “Engkau Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, aku hadir untukMu di rumahMu dalam Hatiku”.

Sore itu, cuaca Jakarta entah kenapa sedikit lebih bersahabat, dengan menurunkan temperatur udaranya dan meniupkan angin dengan lembut, cukup untuk membangkitkan harmoni kedamaiaan alam. Burung Gereja berkicau merdu, bercanda di halaman sebuah tempat suci di pinggiran Ibu Kota. Entah karena burung-burung itu salah alamat, sesuai dengan namanya, mereka harusnya berada di Gereja bukan di Pura, atau memang tidak peduli dengan golongan-golongan yang dibentuk manusia? Burung-burung itu tetap bercanda dan bernyanyi, tanpa mempedulikan apakah mereka ada di Gereja atau Pura. Nur menatap lembut wajah dngan senyum merekah, laki-laki di sebelahnya itu. Dan Dharma  sama sekali belum menyadari keberadaan sosok yang menemaninya kali ini secara tidak sengaja.

Dharma masih tenggelam dalam keheningan pikirannya yang letih berputar dan meloncat-loncat dari masa lalu ke harapan masa depan dan kembali ke masa lalu lagi. Skali-kali dia mengarahkan perhatian sepenuhnya pada nafas, walaupun letupan pikiranya sesekali kembali timbul ke permukaan. Ada satu sceen kehidupan yang selalu berusaha ditampiknya, tapi gagal. Sebuah kisah yang tak pernah dimulai dan lebih sulit lagi untuk diakhiri. Kisah yang membuat paginya selama tujuh tahun ini, seolah-olah menjadi pagi dari seorang yang baru saja dicampakan kekasih malam sebelumnya. Dan sakit itu dia rasakan setiap pagi, tujuh tahun belakangan ini. Namun melalui meditasi, dia seakan menemukan banyak jawaban atas bermacam pertanyaan dalam hidupnya. Dia belajar arti keiklasan, arti Kasih yang sesungguhnya, arti hukum sebab-akibat dan arti peranannya di dunia ini. Dia seakan mememukan jalan “pulang” kedalam dirinya sendiri.


Mulat Sarira

Hari ini rumah sepisekali, tiba-tiba saya ingin mendengarkan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Yogini berjudul Bliss(Mola Mantra) dan kemudian membuka sebuah buku, yang baru saja saya beli di Toko Buku Gramedia Plasa Semangi, berjudul “The Wisdom of Bali, The Sacred Science of Creating Heaven on Earth”. Dalam buku ini ada sebuh Bab yang berjudul Mulat Sarira (Finding Yourself). Yang pertama  menarik perhatian saya dalam Bab ini adalah foto sebuah Genta dan foto patung Buddha yang sangat-sangat-sangat saya kenali, karena akhir tahun 2011 dan awal tahun 2012 saya habiskan di sebuah ruangan dimana patung Buddha itu berada, sebuah ruangan yang bersebelahan dengan lokasi dimana patung Genta itu berdiri dengan tegaknya. Ya, sebuah ruangan bernama Dharmasala di Vihara Budda di desa Banjar kabupaten Buleleng, Bali, Brahmavihara Arama. Di sanalah, untuk pertama kalinya saya habiskan malam tahun baru dengan penuh keheningan dan kedamaain, tanpa kembang api dan pesta bakar ikan dengan music yang mengalun dengan keras semalaman. Sungguh pengalaman yang luar biasa, “membakar” diri saya dengan kehengingan, “mendengarkan” musik kesunyian serta “menikmati” nyala kembang api dalam diri, sampai-sampai dalam hati saya bertanya, “Kemana saja saya selama ini?”.

Saya sampai meneteskan air mata, saat saya menyadari apa yang saya baca kali ini, ternyata sangat berhubungan dengan apa yang saya alami di awal tahun 2012 di Brahmavihara. Di sana saya sempat bertanya kepada Bapak Gede Prama, sebagai mentor kami dalam program retreat tersebut. “Bapak, Jika kita berbicara tentang Pengendalian, seperti halnya sebuah kereta, tentu kita perlu mengenali yang mana kusir kereta(baca: pengendali) dan yang mana kuda-kudanya (baca: yang dikendalikan), begitu pula jika kita berbicara tentang pengendalian pikiran hawa nafsu dll, yang diajarkan hampir semua agama dan kepercayaan di muka bumi ini. Bagaimana kita bisa berbicara tentang pengendalian, jika kita tidak tahu siapa pengendalinya dan apa yang dikendalikan? Dan sampai sekarang, saya tidak pernah bisa membedakan yang mana pikiran saya yang harus saya kendalikan dan yang mana saya sebagai pengendalinya. Bagaimana cara saya mengenalinya, membedakannya? sehingga saya benar-benar mengerti apa itu pengendalian pikiran atau pengendalian hawa nafsu?”. Jawaban Pak Gede waktu itu hanya sebuah senyuman teduh, sebagai ciri khasnya, dan sebuah penjelasan “Teruslah berlatih, suatu saat kamu akan mengenalinya. Seperti halnya sebuah sungai, dasar sungai baru akan kamu liat saat air di permukaannya tenang dan jernih. Saya tidak bisa menunjukan dasar sungai itu jika riak air sungai pikiranmu masih deras. Untuk itu tenangkan dan jernihkanlah pikiranmu/dirimu suatu saat kamu akan melihat sendiri apa yang ada di dasar sungai pikiranmu, dan kamu akan mampu membedakan dasar sungai dan sungai itu sendiri”. Jujur waktu itu saya sedikit tidak puas dengan jawaban Beliau, ya karena saya tidak mengerti apa yang Beliau coba sampaikan. Tapi setelah pengalaman malam ini dengan sebuah Bab di buku ini, saya baru mengerti, ternyata Beliau menyimpan jawabannya untuk malam ini, dan Beliau ingin saya mengalaminya sendiri apa yang Tetua Bali sebut dengan Mulat Sarira (Finding Yourself).

Mulat Sarira, bukan hanya sebuah konsep, bukan pula dogma agama, atau doktrin, tapi sebuah panggilan untuk manusia melepaskan diri dari latar belakang sosial, ras, politik, ekonomi bahkan latar belakang religius dan keagamaan,  untuk kemudian kembali ke akar kita sebagai umat manusia dan menemukan Diri kita sendiri. Mulat Sarira tidak seperti panggilan keagamaan untuk pergi ke temapat-tempat yang dianggap suci tertentu di belahan bumi ini, seperti Pura tertentu atau Wihara seperti Brahmavihara di atas, tapi panggilan untuk pergi kedalam dan mengenali Diri Sendiri. Saat kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Mendengarkan Segalanya, kita lebih sering berharap Dia, siapaun Dia dan bagaimanapun Dia, untuk mendengar tangisan kita, melihat cucuran air mata kita, yang penuh keibaan,yang entah jujur ataupun penuh kepalsuan, untuk kemudia berharap Dia membalasnya dengan keinginan kita, entah itu pengampunan atau imbalan pahala. Tapi saat kita lebih dalam masuk kedalam diri, lakukan dengan tidak sama sekali menyimpulkan konsep apa-apa, seperti halnya konsep bahwa “Tuhan adalah ada dalam diri kita” atau “Diri kita adalah esensinya adalah Tuhan” dan konsep-konsep lain, atau mengharapkan apa-apa, seperti kesembuhan, kebahagiaan, pengampunan dll. Yang ada hanyalah kesadaran akan sebuah proses untuk menemukan Diri yang benar-benar “telanjang”, entah itu sesosok mahluk yang penuh Cinta Kasih, kebaikan, kedamaian, keceriaan, atau malah sebaliknya, diri kita yang penuh kebencian, ego, iri, kecemburuan, dengki, kemarahan, emosi dll,  yang merupakan diri kita yang benar-benar “telanjang”.

Namun dalam proses pengenalan diri ini, apapun yang kita temukan entah itu kebaikan, cinta kasih, atau sebaliknya, kebencian, egoisme, iri hati, kemarahan ketakutan dll, sebagai diri kita yang “telanjang” tadi, jangan pernah melakukan penghakiman diri dan lari darinya. Terutama jika kita menemukan diri kita dalam bentuk nilai-nilai negatif. Saat kita menemukan diri kita sebagai nilai positif, kenali tanpa kebanggaan atau kesenangan. Dan sebaliknya jika kita menemukan diri kita sebagai sosok dengan nilai negative, jangan menghakimi diri dengan merasa kecewa dan kemudian lari darinya, lari dari realita tentang diri kita saat ini, dengan sebuah kekecewaan atau penghakiman. Kenali, observasi nilai-nilai negative tadi, kenali dia lebih dalam. Dan saat kita telah mengenalinya, kita akan lebih mudah untuk mengetahui apa langkah berikutnya, apa pengendalian yang harus kita lakukan. Seperti halnya Pak Gede tidak tahu siapa diri saya,sehingga dia tidak memberi jawaban, begitu juga saya tidak akan pernah tahu siapa diri anda, kecuali anda sendiri yang mengenalinya, menyelaminya sehingga kita tahu, yang mana dasar dan yang mana sungai, siapa pengendali kereta dan kemana kereta kehidupan ini akan kita arahkan.

Jadi ada dua aspek penting yang ingin disampaikan Tetua kita di Bali dengan warisan sederhana bernama Mulat Sarira.Yang pertama yaitu temukan dan kenali diri kita (sang kusir)  dan yang kedua apa yang akan kita lakukan dengan realita tentang diri kita tersebut. Dan sangat-sangat disayangkan aspek-aspek ini sudah sangat-sangat dilupakan oleh sebagian besar dari kita. Yang kita ingat hanyalah phrasenya saja, tanpa praktek mendalam yang mengikutinya. Sesungguhnya banyak sekali “spot-spot” yang disediakan para Tetua kita untuk memberi kita kesempatan mempraktekan Mulat Sarira, mempraktekan kontemplasi kedalam diri, seperti Hari Raya Nyepi, Siwaratri dll. Tapi sekali lagi kita terlalu terlena dengan gemerlap dunia di luar diri kita, bahkan saat Nyepi saja kita jauh dari diri kita dan melupakan siapa diri kita yang sebenarnya. Demikian penting arti dari pengenalan diri kita dalam menyelami misteri kehidupan, dalam menentukan kemana kereta kehidupan ini akan di arahkan, sehingga para Tetua-Tetua kita, baik itu di Bali maupun diluar Bali, berusaha menyampaikannya dalam konsep-konsep yang sesungguhnya baru akan terasa jelas maknanya yang mendalam setelah dipraktekan. Tidak hanya menjadi sebuah teori apa lagi dogma yang kaku dan keras. Seperti halnya para Nabi menyampaikan dengan “Mereka yang mengenali dirinya mengenali Tuhannya”, para Sufi dengan”Your Heart(Self) is your true temple”, para Buddha yang hampir disetiap ajarannya berintikan tentang “Finding Yourself” dengan praktek meditasi, para filusuf Yunani “Temukan Dirimu”, Krishna  dalam “nyanyian-Nya” pada sahabatnya Arjuna “Your self is your true friend and enemy (nilai positive atau negarive tadi)”, dan masih banyak lagi pesan-pesan Tetua kita tentang pentingnya pengenalan diri ini, tentang apa yang di Bali, sekali lagi, coba diwariskan atau disampaikan (“coba” karena tidak akan pernah tersampaikan tanpa disertai dengan praktek dan mengalaminya sendiri)  dengan sebuah phrase sederhana bertajuk “Mulat Sarira”.

“When I am silent,
I fall into the place where everything is music.”

“Silence is a source of great strength.”
-Lao Tzu-

“In the silence of the heart God speaks. If you face God in prayer and silence, God will speak to you. Then you will know that you are nothing. It is only when you realize your nothingness, your emptiness, that God can fill you with Himself. Souls of prayer are souls of great silence.”
― Mother Teresa, In the Heart of the World: Thoughts, Stories and Prayers

“We need to find God, and he cannot be found in noise and restlessness.  God is the friend of silence.  See how nature – trees, flowers, grass – grows in silence; see the stars, the moon and the sun, how they move in silence…. We need silence to be able to touch souls.” -Mother Teresa

“Silence is the true friend that never betrays.”  -Confucius-

In the attitude of silence the soul finds the path in an clearer light, and what is elusive and deceptive resolves itself into crystal clearness.  Our life is a long and arduous quest after Truth.  ~Mahatma Gandhi

“In the end, we will remember not the words of our enemies, but the silence of our friends.”
― Martin Luther King Jr.

“Silence is a friend who will never betray.” -Kung Fu Tzu-

“Meditation will bring you a great silence — because all rubbish knowledge is gone. Thoughts that are part of the knowledge are gone too… an immense silence, and you are surprised: This silence is the only music there is. All music is an effort to bring this silence somehow into manifestation.” – Osho

“It is raining and you can hear the pattern of the drops. You can hear it with your ears, or you can hear it out of that deep silence. If you hear it with complete silence of the mind, then the beauty of it is such that cannot be put into words or onto canvas, because that beauty is something beyond self-expression.” – Jiddu Krishnamurti

“Mind means words; self means silence. Mind is nothing but all the words that you have accumulated; silence is that which has always been with you, it is not an accumulation. That is the meaning of self. It is your intrinsic quality. On the background of silence you go on accumulating words, and the words in total are known as the mind. Silence is meditation. It is a question of changing the gestalt, shifting the attention from words into silence — which is always there.” – Osho

Selamat Hari Raya Nyepi / Happy Silent Day to the World

May All Creatures be Happy

Switch to our mobile site