I

Time is coming and going,
Shape is coming and going,
Feeling is coming and going,
Thought is coming and going,
Sensation is coming and going,
All of those forms happiness and unhappiness or even life.

And then life is also coming and going.
But Something is still, never go, always here watching,
Something that experience,
Something that aware,
about all of those thing that coming and going.

The Way I Am

The way is I Am

I Am the center of the mandala

Everything turns around Me

I Am not moving, everything is moving through Me

Coming and going

That is what they call movement

But I never move, completely still

Ever present right here right now

The senses is the screen

Where the movie of life plays

Where the illusion of movement take place

Where the time is just another delusion

I Am just staying here watching

I Am is the way.

Beringin dan Burung Gereja

Nur menghentikan langkah di sebuah gapura yang terbuka di hadapannya. Menatap sosok asing yang duduk tepat simetris di tengah. Seorang Laki-laki yang sepertinya sangat menikmati sikap duduknya. Punggung yang tegak lurus dari tulang ekor hingga kepala, bersila dengan telapak tangan yang dilipat rapi di pangkuan, serta otot-otot yang sepertinya pasrah pada tarikan gravitasi tanpa perlawanan berarti.  Setangkai dupa dengan wangi yang menenangkan hati, tertancap tak jauh dari tempat laki-laki itu bersila. Bayangan pohon beringin yang ditiup angin terlihat seperti membelai sebagian tubuh kurusnya. Ditambah senyum sederhana yang seakan meluluhkan semua beban, mencair dan mengalir ke pangkuan Ibu Pertiwi. Tak lama berselang, sehelai daun beringin terayun lembut, perlahan namun terarah, yang jatuh di telapak tangannya, juga turut menghiasi suasana. Sungguh pemandangan yang jarang dialami Nur, walaupun dia sebenarnya sering mondar-mandir di sekitar area Pura tempat laki-laki itu duduk dengan sikapnya yang sempurna.

Sejenak Nur menikmati suasana yang dibawa angin dan cahaya ke hidung, telinga, mata bahkan kulitnya. Di dalam hati dia bertanya siapa dia dan apa yang membuat dia begitu tenang, tanpa jeda, terus melontarkan senyum dari bibirnya.  “Bolehkah aku turut duduk dan mulai bertanya?”, harapnya dalap hati. Beringin dan tiupan angin tak memberikan jawaban pertanyaan Nur, sampai akhirnya dia memilih untuk duduk di undakan gapura, menatap sang laki-laki dengan binar mata penuh tanda tanya dan dan larut dalam suasana.

Dharma tetap diam tak bergeming sedikitpun. Gerak sehelai daun beringin yang kali ini tertiup angin ke pergelangan tangannya, seakan tak terasa indra peraba. Mungkin karena dia sibuk mengamati otak  yang seakan memutar berbagai cerita yang tersimpan dalam pikirannya. Segala hal di luar seakan tak terasa. Yang ada hanya dia dan frame demi farme cinema kehidupan yang diputar kembali oleh proyektor pikiran dalam kepalanya. Sampai akhirnya, proyektor itu seakan letih dan memperlambat putaran klise sampai ke titik dimana kali ini hanya ada Dia dan nafasnya.

Di dalam hati Nur bertarung, antara rasa ragu untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam area Pura, dan keinginannya ikut menikmati ketengan. Keraguan yang muncul dalam hatinya karena Pura adalah tempat yang asing baginya. Dia sungkan dan takut berbuat kesalahan. Namun kali ini ada keinginan besar dalam hatinya untuk ikut menikmati apa yang Dharma nikmati di dalam sana. Setelah beberapa lama larut dalam lamunan, dia akhirnya memutuskan untuk berdiri, menengadahkan wajahnya ke angkasa dan mulai menutup mata. Suara gesekan daun beringin yang dihempaskan angin terdengar begitu indah ditangkap telinganya saat itu. Lambat laun hatinya serasa berbisik, memerintahkan kakinya untuk memulai mengambil langkah, memberanikan diri masuk ke dalam, melewati gapura. Bukan megahnya candi dan gapura yang membuatnya terpesona kali ini. Tapi sebuah kombinasi angin, beringin dan bau mewangi dari dupalah yang mencuri perhatian, mengusik hati dan menenggelamkan dirinya pada kerinduan akan arti ketenangan yang membuat dia terpesona. Setibanya di sebelah Dharma, Nur mulai duduk bersila dengan sikap sempurna, dan kembali menutup matanya. Dia membuka dialog dengan dirinya. Tak lagi ada kecanggungan dalam hatinya. Saat ini dia hanya ingin menikmati kedamaian yang begitu nyata. Sampai pada suatu titik dia berucap “Engkau Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, aku hadir untukMu di rumahMu dalam Hatiku”.

Sore itu, cuaca Jakarta entah kenapa sedikit lebih bersahabat, dengan menurunkan temperatur udaranya dan meniupkan angin dengan lembut, cukup untuk membangkitkan harmoni kedamaiaan alam. Burung Gereja berkicau merdu, bercanda di halaman sebuah tempat suci di pinggiran Ibu Kota. Entah karena burung-burung itu salah alamat, sesuai dengan namanya, mereka harusnya berada di Gereja bukan di Pura, atau memang tidak peduli dengan golongan-golongan yang dibentuk manusia? Burung-burung itu tetap bercanda dan bernyanyi, tanpa mempedulikan apakah mereka ada di Gereja atau Pura. Nur menatap lembut wajah dngan senyum merekah, laki-laki di sebelahnya itu. Dan Dharma  sama sekali belum menyadari keberadaan sosok yang menemaninya kali ini secara tidak sengaja.

Dharma masih tenggelam dalam keheningan pikirannya yang letih berputar dan meloncat-loncat dari masa lalu ke harapan masa depan dan kembali ke masa lalu lagi. Skali-kali dia mengarahkan perhatian sepenuhnya pada nafas, walaupun letupan pikiranya sesekali kembali timbul ke permukaan. Ada satu sceen kehidupan yang selalu berusaha ditampiknya, tapi gagal. Sebuah kisah yang tak pernah dimulai dan lebih sulit lagi untuk diakhiri. Kisah yang membuat paginya selama tujuh tahun ini, seolah-olah menjadi pagi dari seorang yang baru saja dicampakan kekasih malam sebelumnya. Dan sakit itu dia rasakan setiap pagi, tujuh tahun belakangan ini. Namun melalui meditasi, dia seakan menemukan banyak jawaban atas bermacam pertanyaan dalam hidupnya. Dia belajar arti keiklasan, arti Kasih yang sesungguhnya, arti hukum sebab-akibat dan arti peranannya di dunia ini. Dia seakan mememukan jalan “pulang” kedalam dirinya sendiri.

Bersambung……

Mulat Sarira

Hari ini rumah sepisekali, tiba-tiba saya ingin mendengarkan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Yogini berjudul Bliss(Mola Mantra) dan kemudian membuka sebuah buku, yang baru saja saya beli di Toko Buku Gramedia Plasa Semangi, berjudul “The Wisdom of Bali, The Sacred Science of Creating Heaven on Earth”. Dalam buku ini ada sebuh Bab yang berjudul Mulat Sarira (Finding Yourself). Yang pertama  menarik perhatian saya dalam Bab ini adalah foto sebuah Genta dan foto patung Buddha yang sangat-sangat-sangat saya kenali, karena akhir tahun 2011 dan awal tahun 2012 saya habiskan di sebuah ruangan dimana patung Buddha itu berada, sebuah ruangan yang bersebelahan dengan lokasi dimana patung Genta itu berdiri dengan tegaknya. Ya, sebuah ruangan bernama Dharmasala di Vihara Budda di desa Banjar kabupaten Buleleng, Bali, Brahmavihara Arama. Di sanalah, untuk pertama kalinya saya habiskan malam tahun baru dengan penuh keheningan dan kedamaain, tanpa kembang api dan pesta bakar ikan dengan music yang mengalun dengan keras semalaman. Sungguh pengalaman yang luar biasa, “membakar” diri saya dengan kehengingan, “mendengarkan” musik kesunyian serta “menikmati” nyala kembang api dalam diri, sampai-sampai dalam hati saya bertanya, “Kemana saja saya selama ini?”.

Saya sampai meneteskan air mata, saat saya menyadari apa yang saya baca kali ini, ternyata sangat berhubungan dengan apa yang saya alami di awal tahun 2012 di Brahmavihara. Di sana saya sempat bertanya kepada Bapak Gede Prama, sebagai mentor kami dalam program retreat tersebut. “Bapak, Jika kita berbicara tentang Pengendalian, seperti halnya sebuah kereta, tentu kita perlu mengenali yang mana kusir kereta(baca: pengendali) dan yang mana kuda-kudanya (baca: yang dikendalikan), begitu pula jika kita berbicara tentang pengendalian pikiran hawa nafsu dll, yang diajarkan hampir semua agama dan kepercayaan di muka bumi ini. Bagaimana kita bisa berbicara tentang pengendalian, jika kita tidak tahu siapa pengendalinya dan apa yang dikendalikan? Dan sampai sekarang, saya tidak pernah bisa membedakan yang mana pikiran saya yang harus saya kendalikan dan yang mana saya sebagai pengendalinya. Bagaimana cara saya mengenalinya, membedakannya? sehingga saya benar-benar mengerti apa itu pengendalian pikiran atau pengendalian hawa nafsu?”. Jawaban Pak Gede waktu itu hanya sebuah senyuman teduh, sebagai ciri khasnya, dan sebuah penjelasan “Teruslah berlatih, suatu saat kamu akan mengenalinya. Seperti halnya sebuah sungai, dasar sungai baru akan kamu liat saat air di permukaannya tenang dan jernih. Saya tidak bisa menunjukan dasar sungai itu jika riak air sungai pikiranmu masih deras. Untuk itu tenangkan dan jernihkanlah pikiranmu/dirimu suatu saat kamu akan melihat sendiri apa yang ada di dasar sungai pikiranmu, dan kamu akan mampu membedakan dasar sungai dan sungai itu sendiri”. Jujur waktu itu saya sedikit tidak puas dengan jawaban Beliau, ya karena saya tidak mengerti apa yang Beliau coba sampaikan. Tapi setelah pengalaman malam ini dengan sebuah Bab di buku ini, saya baru mengerti, ternyata Beliau menyimpan jawabannya untuk malam ini, dan Beliau ingin saya mengalaminya sendiri apa yang Tetua Bali sebut dengan Mulat Sarira (Finding Yourself).

Mulat Sarira, bukan hanya sebuah konsep, bukan pula dogma agama, atau doktrin, tapi sebuah panggilan untuk manusia melepaskan diri dari latar belakang sosial, ras, politik, ekonomi bahkan latar belakang religius dan keagamaan,  untuk kemudian kembali ke akar kita sebagai umat manusia dan menemukan Diri kita sendiri. Mulat Sarira tidak seperti panggilan keagamaan untuk pergi ke temapat-tempat yang dianggap suci tertentu di belahan bumi ini, seperti Pura tertentu atau Wihara seperti Brahmavihara di atas, tapi panggilan untuk pergi kedalam dan mengenali Diri Sendiri. Saat kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Mendengarkan Segalanya, kita lebih sering berharap Dia, siapaun Dia dan bagaimanapun Dia, untuk mendengar tangisan kita, melihat cucuran air mata kita, yang penuh keibaan,yang entah jujur ataupun penuh kepalsuan, untuk kemudia berharap Dia membalasnya dengan keinginan kita, entah itu pengampunan atau imbalan pahala. Tapi saat kita lebih dalam masuk kedalam diri, lakukan dengan tidak sama sekali menyimpulkan konsep apa-apa, seperti halnya konsep bahwa “Tuhan adalah ada dalam diri kita” atau “Diri kita adalah esensinya adalah Tuhan” dan konsep-konsep lain, atau mengharapkan apa-apa, seperti kesembuhan, kebahagiaan, pengampunan dll. Yang ada hanyalah kesadaran akan sebuah proses untuk menemukan Diri yang benar-benar “telanjang”, entah itu sesosok mahluk yang penuh Cinta Kasih, kebaikan, kedamaian, keceriaan, atau malah sebaliknya, diri kita yang penuh kebencian, ego, iri, kecemburuan, dengki, kemarahan, emosi dll,  yang merupakan diri kita yang benar-benar “telanjang”.

Namun dalam proses pengenalan diri ini, apapun yang kita temukan entah itu kebaikan, cinta kasih, atau sebaliknya, kebencian, egoisme, iri hati, kemarahan ketakutan dll, sebagai diri kita yang “telanjang” tadi, jangan pernah melakukan penghakiman diri dan lari darinya. Terutama jika kita menemukan diri kita dalam bentuk nilai-nilai negatif. Saat kita menemukan diri kita sebagai nilai positif, kenali tanpa kebanggaan atau kesenangan. Dan sebaliknya jika kita menemukan diri kita sebagai sosok dengan nilai negative, jangan menghakimi diri dengan merasa kecewa dan kemudian lari darinya, lari dari realita tentang diri kita saat ini, dengan sebuah kekecewaan atau penghakiman. Kenali, observasi nilai-nilai negative tadi, kenali dia lebih dalam. Dan saat kita telah mengenalinya, kita akan lebih mudah untuk mengetahui apa langkah berikutnya, apa pengendalian yang harus kita lakukan. Seperti halnya Pak Gede tidak tahu siapa diri saya,sehingga dia tidak memberi jawaban, begitu juga saya tidak akan pernah tahu siapa diri anda, kecuali anda sendiri yang mengenalinya, menyelaminya sehingga kita tahu, yang mana dasar dan yang mana sungai, siapa pengendali kereta dan kemana kereta kehidupan ini akan kita arahkan.

Jadi ada dua aspek penting yang ingin disampaikan Tetua kita di Bali dengan warisan sederhana bernama Mulat Sarira.Yang pertama yaitu temukan dan kenali diri kita (sang kusir)  dan yang kedua apa yang akan kita lakukan dengan realita tentang diri kita tersebut. Dan sangat-sangat disayangkan aspek-aspek ini sudah sangat-sangat dilupakan oleh sebagian besar dari kita. Yang kita ingat hanyalah phrasenya saja, tanpa praktek mendalam yang mengikutinya. Sesungguhnya banyak sekali “spot-spot” yang disediakan para Tetua kita untuk memberi kita kesempatan mempraktekan Mulat Sarira, mempraktekan kontemplasi kedalam diri, seperti Hari Raya Nyepi, Siwaratri dll. Tapi sekali lagi kita terlalu terlena dengan gemerlap dunia di luar diri kita, bahkan saat Nyepi saja kita jauh dari diri kita dan melupakan siapa diri kita yang sebenarnya. Demikian penting arti dari pengenalan diri kita dalam menyelami misteri kehidupan, dalam menentukan kemana kereta kehidupan ini akan di arahkan, sehingga para Tetua-Tetua kita, baik itu di Bali maupun diluar Bali, berusaha menyampaikannya dalam konsep-konsep yang sesungguhnya baru akan terasa jelas maknanya yang mendalam setelah dipraktekan. Tidak hanya menjadi sebuah teori apa lagi dogma yang kaku dan keras. Seperti halnya para Nabi menyampaikan dengan “Mereka yang mengenali dirinya mengenali Tuhannya”, para Sufi dengan”Your Heart(Self) is your true temple”, para Buddha yang hampir disetiap ajarannya berintikan tentang “Finding Yourself” dengan praktek meditasi, para filusuf Yunani “Temukan Dirimu”, Krishna  dalam “nyanyian-Nya” pada sahabatnya Arjuna “Your self is your true friend and enemy (nilai positive atau negarive tadi)”, dan masih banyak lagi pesan-pesan Tetua kita tentang pentingnya pengenalan diri ini, tentang apa yang di Bali, sekali lagi, coba diwariskan atau disampaikan (“coba” karena tidak akan pernah tersampaikan tanpa disertai dengan praktek dan mengalaminya sendiri)  dengan sebuah phrase sederhana bertajuk “Mulat Sarira”.

“When I am silent,
I fall into the place where everything is music.”
-Rumi-

“Silence is a source of great strength.”
-Lao Tzu-

“In the silence of the heart God speaks. If you face God in prayer and silence, God will speak to you. Then you will know that you are nothing. It is only when you realize your nothingness, your emptiness, that God can fill you with Himself. Souls of prayer are souls of great silence.”
― Mother Teresa, In the Heart of the World: Thoughts, Stories and Prayers

“We need to find God, and he cannot be found in noise and restlessness.  God is the friend of silence.  See how nature – trees, flowers, grass – grows in silence; see the stars, the moon and the sun, how they move in silence…. We need silence to be able to touch souls.” -Mother Teresa

“Silence is the true friend that never betrays.”  -Confucius-

In the attitude of silence the soul finds the path in an clearer light, and what is elusive and deceptive resolves itself into crystal clearness.  Our life is a long and arduous quest after Truth.  ~Mahatma Gandhi

“In the end, we will remember not the words of our enemies, but the silence of our friends.”
― Martin Luther King Jr.

“Silence is a friend who will never betray.” -Kung Fu Tzu-

“Meditation will bring you a great silence — because all rubbish knowledge is gone. Thoughts that are part of the knowledge are gone too… an immense silence, and you are surprised: This silence is the only music there is. All music is an effort to bring this silence somehow into manifestation.” – Osho

“It is raining and you can hear the pattern of the drops. You can hear it with your ears, or you can hear it out of that deep silence. If you hear it with complete silence of the mind, then the beauty of it is such that cannot be put into words or onto canvas, because that beauty is something beyond self-expression.” – Jiddu Krishnamurti

“Mind means words; self means silence. Mind is nothing but all the words that you have accumulated; silence is that which has always been with you, it is not an accumulation. That is the meaning of self. It is your intrinsic quality. On the background of silence you go on accumulating words, and the words in total are known as the mind. Silence is meditation. It is a question of changing the gestalt, shifting the attention from words into silence — which is always there.” – Osho

Selamat Hari Raya Nyepi / Happy Silent Day to the World

May All Creatures be Happy

Remaja dan Technology

Kemarin saya melihat di wall Facebook, ada sebuah video yang di share banyak orang dan dihujat ramai-ramai di setiap komentar sharingnya. Ternyata isi video itu adalah sebuah adegan beberapa anak gadis yang menganiaya teman sebayanya. Salah satu dari mereka dipukul, dimaki-maki hingga pakaiannya disobek-sobek sampai, menurut saya, mengingat kondisi korban seperti itu, video itu tidak layak untuk dipertontonkan dan disebarluaskan.

Di sisi lain saya melihat kasus ini bukan sebuah kasus kelas kakap, seperti pembunuhan atau teroris atau korupsi milyaran, yang pantas kita hakimi beramai-ramai seperti itu, bahkan hingga seluruh dunia tahu dan ikut menghujatnya. Kasus ini hanya pertikaian sekelompok remaja yang memperebutkan lawan jenisnya di masa puber. Saya yakin sebagian besar dari kita, saat remaja, pernah mengalami perkelahian remaja seperti ini, pria maupaun wanita, dan gak sedikit dari kita adalah pelakunya. Saya  tahu apa yang mereka lakukan dalam video itu sungguh keterlaluan, tapi apakah perlu kita membuat mereka menjadi bulan-bulanan dan dimaki-maki seluruh dunia? Hayolah… mereka masih remaja yang masih bisa kita bimbing… mungkin banyak dari kita dulu yang melakukan hal yang sama, bahkan lebih parah dari  itu, sewaktu kita masih remaja. Bedanya, dulu teknologi tidak secanggih sekarang, tapi mental anak muda kita masih tetap sama, tidak sepesat pertumbuhan teknologi sekarang ini. Dulu kita tidak divideokan  sehingga, sengaja atau tidak sengaja, tidak mungkin tingkah masa muda kita bisa dipublish seperti apa yang terjadi dengan remaja sekarang ini. Remaja dengan kesalahan seperti ini tidak seharusnya kita hujat beramai-ramai seperti itu.

Harusnya kita bisa lebih arif menyikapi kejiwaan anak-anak muda kita, generasi penerus kita. Hukum saja ada yang namanya “Kejahatan di Bawah Umur“. Hukuman yang harusnya kita berikan cukup hukuman yang sesuai hukum yang berlaku, dan yang cukup membuat mereka jera, bukan hukuman rasa malu dan kejatuhan mental yang akan menjadi neraka, dan mereka bawa seumur hidup mereka. Sekali lagi MEREKA MASIH REMAJA!. Kasihilah mereka seperti adik-adik kita sendiri. Kita tidak pernah tahu apakah nanti adik-adik atau keluarga kita juga ada yang menjadi “Korban ketidaksiapan mental dalam menghadapi Technology” seperti ini atau tidak. Dan saya sebagai orang yang berkecimpung di dunia technology, merasa pesatnya pertumbuhan technology saat ini, tidak dibarengi pertumbuhan mental manusianya.

Saya ingat kejadian dimana seorang anak muda Non Hindu  mengomentari kemacetan di Bali akibat iring-iringan upacara adat, dengan kata-kata yang tidak pantas, di sebuah account jejaring sosialnya. Awalnya siapa tidak marah keyakinannya dikomentari seperti itu? Saya juga sangat marah. Tapi dengan kejernihan hati, cobalah melihat kondisi mereka yang masih labil kejiwaan dan mentalnya. Saat emosi remaja mereka menggelora, mereka tidak sadar apa yang mereka hadapi bukan hanya sebuah Hand Phone, tapi masyarakat di dunia maya yang tidak mereka lihat dan sadari. Dalam kondisi seperti itu siapapun dapat melakukan hal yang sama. Bayangkan jika kita suatu saat melakukan ketidaksengajaan serupa, atau minimal menjadi keluarga dari orang yang melakukan hal seperti itu? apa kita sudah siap menanggung penghakiman serupa?

Buat orang awam banyak sekali aturan-aturan moral tak tertulis di dunia maya yang belum mereka ketahui. Seperti mempublish foto kemiskinan atau penderitaan orang tanpa seizin orangyang diphotonya. Mempublish sebuah foto karya orang lain tanpa menyertakan link sumbernya. Mempublis foto yang menurut mereka, dengan jiwa yang masih labil, sebagai sesuatu hal yang wajar, tapi menurut kita itu adalah foto yang sangat tidak sopan. Memaki-maki dengan kata-kata kasar di jejaring sosial. Dan masih banyak lagi aturan-aturan etika yang tak tertulis, yang akibatnya secara sistemik, sangat fatal. Termasuk dia yang tidak sadar, mempublish kesalahan orang lain, apa lagi dengan kondisi yang kurang layak untuk dipertontonkan, seperti korban penganiayaan yang ada dalam video tersebut di atas. Jangankan remaja, banyak sekali kasus-kasus menyakitkan yang terjadi akibat ketidak siapan akan penerimaan teknologi seperti ini. Dari kehilangan pekerjaan sampai tindak kejahatan. Bahkan itu terjadi di negara-negara maju, apa lagi di negara berkembang seperti kita ini. 

Untuk itu mari kita sama-sama belajar berlaku dengan kejernihan Hati dan pikiran, karena hanya dengan kejernihan hati dan pikiran, kita akan mampu melihat masalah dari sudut pandang yang lebih luas. Media kita sudah sangat uneducative, jangan ditambah lagi dengan kita berbagi hal-hal yang menjerumuskan mental anak muda kita di jejaring sosial. Lebih baik kita manfaatkan teknologi seperti jejaring sosial untuk berbagi hal-hal yang mendidik, memotivasi dan bermanfaat untuk kita maupun generasi muda kita. Mari kita belajar untuk tidak menghakimi orang lain, minimal melebihi kesalahan yang mereka perbuat. Serahkanlah semuanya kepada hukum yang berlaku.

Semoga Semua Mahluk Berbahagia

Sebuah “Reminder” Bertajuk Galungan dan Kuningan

Hari Raya di Bali merupakan semacam notifikasi atau reminder yang diset para tetua kita, untuk mengingatkan kita agar selalu berlatih dalam kehidupan. Nyepi kita berlatih untuk berkontemplasi, berdialoog dengan Diri, mengenal Diri lebih jauh. Siwaratri kita berlatih untuk tetap sadar, bahkan dalam malam yang paling gelap sekalipun. Saraswati adalah reminder akan pembelajaran atau latihan itu sendiri, serta dalam Galungan dan Kuningan kita berlatih untuk tetap berada di jalan yang benar penuh kesadaran.

Sedangkan Ritual adalah aktifitas yang membantu dan membuat kita ingat dan tetap sadar bahwa kita sedang berada dalam sebuah proses pelatihan. Ritual yang dibalut keindahan, menjaga kita tetap dalam Kekinian. Warna-warni perayaan seperti Penjor(Janur) yang melengkung di sepanjang jalan, membuat mata kita tetap “di sini”, dibalut keindahan. Wangi dupa menjaga penciuman kita tetap dalam kedamaiaan. Serta alunan lagu-lagu suci memanjakan pendengaran kita dengan melodi yang meneduhkan jiwa. Panca indra dan pikiran kita diistirahatkan dari kekacauan, kekawatira, ketakutan, kebencian dan konflik kehidupan sehari-hari. Semua adalah bagian dari latihan untuk tetap berada dalam kedamaian Kekinian. Melepaskan semua beban aktifitas dunia dalam keseharian dengan meleburkan diri dalam kesadaran akan keindahan, yang tetua kita sajikan dan wariskan. Kesadaran inilah yang membuat segala hal dalam kehidupan masyarakan Bali, baik ritual maupun kehidupan sehari-hari, menjadi object meditasi sehingga membuat masyarakat Bali bisa menjalani hidup yang meditatif. Tanpa semua kesadaran tentang latihan tersebut, kita tak akan memperoleh apa-apa dari sebuah hari raya.

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan. Perayaan kemenangan ini hanya sebuah “Pit Stop” atau “Rest Area”, tempat beristirahatan sejenak, untuk kita bersiap, guna tetap melatih diri selalu berjalan di jalan Dharma, di hari-hari berikutnya. Kemenangan Yang Sejati hanya ada saat kita mampu meraih Pembebasan melalui latihan-latihan tersebut. Semoga Jalan Kebenaran adalah jalan yang selalu kita pilih serta dapat mengantarkan kita pada pembebasan, dan Semoga Semua Mahluk Berbahagia.

Related Post :

 

 

Saat Ngaben Masal Menjadi Salah Satu Solusi

Kampung halaman saya, Bali, selalu menjadi sebuah dimensi ruang untuk me-refresh kembali kepenatan ibu kota yang saya bawa dari Jakarta. Berbagai masalah, tekanan bahkan kepalsuan serasa mengelupas, mencair dan mengalir dari sekujur tubuh, mengikuti gaya gravitasi, jatuh ke hangatnya pangkuan Ibu Pertiwi. Pada kepulangan kali inipun hal serupa terasa dari semenjak pertama kali menginjakan langkah kaki di landasan parkir pesawat Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Dan aura relaksasi dan meditatif (Baca juga In Bali Life is Meditaion) ini, selalu membawa pada renungan-renungan yang membelalakan mata, tentang kampung halaman saya yang satu ini. Tentang masalahnya, baik dari sudut pandang orang Bali sediri, maupun dari sudut pandang orang luar, dimana dalam hal ini saya mencoba menempatkan diri sebagai Observer-nya (Ceritanya menjadi orang Bali dan skaligus bukan Orang Bali :D ).

 

Kepulangan kali ini lebih banyak saya habiskan untuk berbagai kegiatan adat di beberapa tempat termasuk di desa sendiri, sebuah desa di sebelah utara kota Gianyar, Beng. Perioda pertengahan tahun (khususnya di bulan Agustus dan September) adalah perioda yang lumayan sibuk untuk kebanyakan masyarakat Bali. Dalam perioda ini, banyak diselenggarakan berbagai upacara musiman (tidak rutin) di berbagai tempat, karena memang dipercara di bulan-bulan inilah dimensi waktu memberikan kesempatan baik untuk melaksanakannya. Pernikahan (Manusa Yadnya) dan Ngaben (Pitra Yadnya) lebih banyak diselenggarakan di bulan-bulan tersebut. Dan kali ini saya lebih banyak terlibat dalam berbagai prosesi Ngaben di beberapa tempat. Hari kedua saya di Bali saya datang ke acara Ngelungah (Ngaben untuk bayi) salah seorang sahabat saya, di desa tetangga, Bitra. Kebetulan acaranya dilaksanakan berbarengan dengan prosesi Ngaben Masal di desa tersebut. Bahkan Ngaben Masal kali ini merupakan gabungan dari beberapa desa. Sungguh meriah acaranya. Arak-arakan Bade (Pagoda sebagai tempat membawa Sawa/Jenazah) dan Lembu (Sebuah patung dari kayu dan gabus,biasanya ya berbentuk lembu atau kadang singa tempat menaruh Sawa/Jenazah saat akan dibakar di kuburan), membuat saya terpesona kembali (Ceritanya bukan orang bali lagi), maklum 10 tahun saya habiskan hidup saya di luar Bali, dan selama 10 tahun tersebut sangat jarang bahkan mungkin tidak pernah saya mengikuti prosesi ngaben masal seperti ini lagi. Arak-arakan tersebut bahkan mengharuskan lalulintas sepanjang jalan protokol yang dilalui harus dialihkan. Senang sekali.

 

Di desa saya sendiri, jauh-jauh hari juga sedang mempersiapkan perhelatan serupa. Walaupun sayang ,di desa sendiri untuk prosesi tahun ini saya tidak bisa mengikutinya karena harus kembali ke Jakarta sebelum acara dilaksanakan. Namun saya masih bisa menyumbangkan sedikit tenaga untuk ikut membantu prosesi acara, dimana kebetulan salah satu keluarga yang  ikut menyelenggarakan Ngaben Masal kali ini adalah sodara sendiri. Setiap senja menjelang, kami, para anggota banjar (RW) adat, berkumpul di Balai Banjar untuk “mencicil” persiapan yang diperlukan. Kesempatan ini menjadi sangat berarti buat saya, yang harus hidup di perantauan, untuk kembali berebaur menjadi bagian dari banjar, kembali berkumpul bersama anggota banjar yang sekarang lebih banyak didominasi oleh mereka yang dulunya adalah teman-teman sepermainan saya. Bercanda gurau, saling tegur sapa dan berbagi cerita serta ide-ide yang saya tidak sangka sangat brilian, keluar dari sahabat-sahabat saya, yang dulu saya ajak bersama-sama menarik layang-layang di tengah sawah. Tentu kesempatana ini saya sangat nanti-nantikan semasih saya merantau di Jakarta. Berbagi nostalgia yang tak mungkin bisa diraih kembali.

 

Di sela-sela cerita yang mengalir, bagai air sungai Batu Lampo di pinggiran desa tempat kami dulu bermain, bercanda, dan mandi bersama, sebuah konsep menarik kembali tertangkap dan terangkum dalam otak tentang  Ngaben Masal ini. Saya memang tidak banyak tahu bagaimana detail pelaksanaan Ngaben Masal, tapi saya melihat solusi-solusi seperti ini adalah solusi yang patut dikembangkan guna menjaga keseimbangan antara adat dan perekonomian masyarakat bali di tengah-tengah perhelatan globalisasi seperti sekarang. Sudah sangat jelas permasalah yang dihadapi masyarakat Bali di era globaloisasi, dimana kesempatan untuk berkembang dalam pendidikan, teknologi, dan karir lebih sering berbenturan dengan kewajiban dalam lingkungan adat yang kadang kaku dan kurang memberikan kesempatan anggota adatnya untuk berkembang lebih jauh dalam pilar-pilar pendidikan, perekonomian dan teknologi, (baca juga Rekonstruksi Pilar-Pilar Bali).

 

Manfaat yang bisa diambil dari pelaksanaan Ngaben secara masal adalah:

1. Biaya yang diperlukan bagi keluarga peserta bisa lebih ditekan. Dengan melaksanakan upacara secara berkelompok, banyak biaya, baik upacara maupun biaya lain bisa disatukan pengadaannya, karena banyak upacara/upakara yang bisa dijadikan satu  untuk beberapa peserta. Penghematan biaya ini  cukup signifikan hasilnya. Dengan demikian, keluarga yang kurang mampu tidak terbebani dengan biaya yang berat untuk bsia melaksanakan Ngaben. Disini kita bisa menegakan kembali pilar perekonomian masyarakat. Di jaman Addvertaising seperti sekarang ini, jumlah masa dalam pelaksanaan Ngaben Masal juga bisa menjadi sesuatu yang dijual ke berbagai perusahaan untuk pemasangan iklan. Operator selular misalnya, belakangan banyak program-program sosial skaligus marketing yang dikemas untuk membantu pelaksanaan Ngaben masal.Tentu dengan bantuan dana seperti ini, biaya yang dikeluarkan bisa lebih ditekan lagi.

 

2. Waktu pelaksanaan yang lebih terjadwal. Di Bali sebelum Ngaben jenazah dari keluarga yang meninggal bisa dikingsan (ngaben kecil/dititp di api) atau dikubur terlebih dahulu untuk nantinya dibakar pada waktu yang tepat. Untuk itu jika ada anggota keluarga yang meninggal, upacara ngaben bisa ditunda dalam jangka waktu tertentu, guna melakukan persiapan baik itu mencari hari baik atau persiapan financial. Degan demikian Upcara Ngabennya bisa disesuaikan waktunya, dan akan lebih baik jika dilakukan berkelompok dengan Ngaben Masal. Disini kita memperoleh flexibilitas waktu baik untuk anggota keluarga  melakukan persiapan, maupun anggota banjar lain untuk bergotong royong. Waktu untuk pelaksanaannya bisa diplot menjadi sebuah jadwal rutin satu,dua atau tiga tahunan, sehingga dalam satu, dua atau tiga tahun tersebut, anggota banjar yang lain hanya disibukan di plot waktu itu saja, bukan berkali kali. Ini akan memberikan waktu lebih luang buat anggota banjar yang lain untuk mengembangkan diri di luar adat.

 

Namun pelaksanaan Ngaben secara berkelompok ini menuntut peran anggota banjar lain lebih aktif. Jika dengan Ngaben pribadi peran anggota banjar lain tidak terlalu dituntut, dalam Ngaben berkelompok ini peran anggota banjar lebih dituntut karena harus dibentuk kepanitiaan khusus yang menangani berbagai macam hal di dalamnya. Namun sebenarnya hal ini lebih bisa diterima ketimbang proses Ngaben yang berkali-kali dalam kurun waktu tertentu. Disamping itu kepanitiaan juga bisa difocuskan pada anggota keluarga peserta Ngaben untuk lebih bisa berperan, sehingga mengurangi tanggung jawab anggota banjar yang bukan peserta. Jadi jika ditelaah lagi, pengelompokan proses Ngaben ini lebih banyak manfaatnya buat masyarakat Bali dan banjar yang bersangkutan.

 

Solusi-solusi seperti Ngaben Masal/Kelompok ini adalah solusi yang harus mulai kita telusuri untuk menjagi keseimbangan Bali ditengah-tengah perhelatan Globalisasi zaman sekarang ini. Dan untuk merealisasikannya juga dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk ikut berperan di dalamnya. Seperti halnya di beberapa Banjar di Bali yang sudah mewajiban Ngaben dilakukan secara berkelompok di dalam Awig-Awig(Undang-undang) adat mereka. Kita harus hilangkan kecendrungan masyarakat yang lebih mementingkan Gengsi dan Ego. Sudah saatnya Genggsi dan Nama besar itu kita alihkan dalam bentuk yang berbeda, bukan lagi menonjolkan diri dengan kemewahan, tapi menonjolkan diri dengan lebih banyak berbagi bagi masyarakat, dalam hal ini anggota Banjar lain yang merupakan kelompok masyarakat terdekat kita. Kebanggaan bisa berbuat sesuatu buat masyarakat saya kira sama nilainya, bahkan lebih, ketimbang kebanggaan dengan berpamer kemewahan yang malah akan memunculkan kecemburuan sosial dan perpecahan antar anggota bangjar sendiri. Semoga kita bisa membangun Bali dan memperkuat Ajeg Bali dengan pemahaman-pemahaman seperti ini.

 

 

Semoga Bermanfaat.

 

Rekonstruksi Pilar-Pilar Bali

Ibarat sebuah rumah, Bali tetap bisa berdiri kokoh seperti sekarang karena ditopang oleh  pilar-pilar yang telah sedemikian rupa didesign selama ber abad-abad lamanya untuk menahan terpaan badai perubahan, sehingga membuat semua penghuni di dalam rumah tersebut tetap aman dan nyaman. Namun apa jadinya jika pilar-pilar itu tidak seimbang lagi? Tinggi rendahnya tidak lagi sama, daya topangnya tidak lagi seimbang? Dengan mudah rumah tersebut digoyang oleh energi-energi perubahan dan pada akhirnya merobohkan rumah itu sendiri.

 

Saya teringat sewaktu saya kecil, setiap subuh, Ibu selalu berbelanja ke pasar tradisional untuk memebeli kebutuhan sehari-hari kami sebagai sebuah keluarga yang hidup di sebuah “rumah” yang bernama Bali. Kebutuhan itu, selalin untuk penghidupan fisik, juga untuk memenuhi kebutuhan adat dan spiritual kami. Dan percaya atau tidak, selama dua puluh tahun lebih, pasar tradisional tempat Ibu berbelanja itu tidak banyak berubah hingga sekarang. Pasar itu masih berdiri kokoh sebagai pusat perekonomian di kabupaten Gianyar, bahkan makin membesar. Tidak seperti pasar-pasar tradisional di luar Bali, yang secara mengenaskan telah berganti rupa menjadi pusat-pusat perbelanjaan modern, yang hanya memberi pemasukan bagi sebagian orang-orang yang berkuasa, dan menyedot pengeluaran bagi mereka yang tergolong masyarakat menengah ke bawah. Dan lebih menyedihkan lagi, tak jarang, bahkan mungkin semua perubahan itu selalu meninggalkan jejak duka buat mereka-mereka yang tadinya menggantungkan hidupnya di sana, dengan praktek penggusuran secara paksa. Apa sebenarnya yang membuat pusat perbelanjaan modern itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mampu menggeser peranan pasar tradisional di Bali? Tidak lain adalah tiga pilar utama Bali yang saling menopang satu sama lain yaitu, Spiritual, Adat/Seni/Budaya dan Perekonomian itu sendiri. Ketiga pilar ini seperti mandala yang berputar harmonis, dan saling menjaga agar putarannya tidak melempar salah satu keluar batas.

 

Kehidupan masyarakat Bali sehari-harinya tidak lepas dari upacara dan kegiatan-kegiatan adat yang membuat kebutuhan dasar masyarakat Bali  tidak hanya sebatas kebutuhan fisik yang bisa dengan mudah diformat secara instan oleh pusat-pusat perbelanjaan modern, tapi malah lebih banyak berupa kebutuhan yang berhubungan dengan kegiatan Spiritual dan Adat, seperti halnya kebutuhan akan bahan-bahan upacara yang tentunya hanya bisa dipenuhi oleh masyarakat Bali sendiri dengan unsur estetikanya yang kental. Inilah yang membuat sulit untuk pusat perbelanjaan modern mengambil hati masyarakat Bali, guna membuat mereka berpindah dari pasar tradisional. Mereka masih sulit untuk bisa menyediakan secara instan kebutuhan-kebutuhan yang berhubungan dengan kehidupan spiritual dan adat, lebih-lebih lagi kebutuhan itu harus dikemas dalam unsur-unsur estetika tertentu. Dalam hal ini spirtual, adat, seni dan budaya telah mampu menjadi senjata ampuh untuk membendung gempuran perubahan dalam dunia perekonomian dan globalisasi.

 

Namun segala macam perubahan tidak mungkin bisa sepenuhnya dibendung masuk ke dalam kehidupan masyarakat Bali, yang sekarang menjadi salah satu tujuan pariwisata utama domestik dan international, dan tentunya akan menyisipkan budaya-budaya luar yang berujung pada kebutuhan-kebutuhan baru anggota masyarakatnya. Seperti halnya perkembangan teknologi yang secara langsung ataupun tidak, pasti akan berdampak pada pergeseran kebutuhan masyarakat. Untuk itu aktifitas dan kebutuhan spiritual dan adat pun harus bergerak menyesuaikan perubahan yang terjadi, namun tetap pada batasan-batasan tertentu. Jangan sampai kegiatan adat dan spiritual yang kaku menjadi lebih dominan, sehingga kesempatan masyarakat untuk berkembang di dunia Pendidikan, Teknologi dan Perekonomian menjadi terhambat oleh kewajiban-kewajiban adat yang statis. Namun bukan berarti kita harus meninggalkan adat sepenuhnya. Jadikanlah pemahaman dalam bidang Pendidikan, Teknologi-Informasi dan Perekonomian, menjadi benteng masyarakat Bali sendiri dari gempuran perubahan dari dunia luar, sehingga tetap bisa bergerak seirama dengan perubahan, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai sebuah masyarakat sosial budaya. Sebagai contoh, kita bisa memanfaatkan media-media, yang telah mulai mengglobal menembus batasan jarak dan waktu, seperti Internet yang semakin lama malah semakin murah, untuk lebih menyerap informasi dan menjadi media pemasaran untuk produk-produk hasil dari usaha kecil dan menengah di daerah kita.

 

Belakangan memang keharmonisan pilar-pilar ini mulai goyah oleh gempuran arus perubahan global. Lihat saja bagaimana investor-investor luar dengan mudah berdatangan dan berinvestasi dalam pilar perekonomian khususnya pariwisata, tanpa memperhatikan keseimbangan pilar-pilar lain, ya karena mereka memang tidak ada kepentingan untuk itu. Buat mereka saat Bali tidak lagi menjadi daerah yang menjanjikan seperti sekarang, dengan uangnya mereka bisa pergi ke mana saja, nah orang bali mau pergi ke mana? Di sisi lain industripun mulai dikuasai orang luar, karena masyarakat kita terikat oleh kewajiban adat, sehingga mereka tidak punya kesempatan untuk mengembangkan diri dalam pilar perekonomian. Mereka lebih seperti tamu (atau bahkan pembantu?) di rumahnya sendiri. Inilah akibat jika kita lupa akan konsep sesungguhnya dari keharmonisan dan keseimbangan  yang diwariskan pendahulu kita. Di satu sisi, adat dan spiritual mungkin adalah senjata kuat untuk menjaga diri kita dari gempuran  perubahan yang membawa kebutuhan-kebutuhan baru bersertanya, namun di sisi lain, adat juga tidak boleh menjadi dogma yang membabi buta dan kaku menyikapi segala realita perubahan, yang malah menjadi penghalang masyarakat untuk tetap update dengan segala perubahan. Hal ini dapat  menjadi bumerang karena kita kurang mawas diri sehingga tidak mampu bersaing dalam perhelatan (pilar) perekonomian dan teknologi. Jika kita gali kembali dalam filsafat Desa, Kala, Patra, dimensi Kala(Waktu) dimana perubahan itu meluncur, harus membuat sebuah masyarakat itu berubah menyesuaikan, guna tetap menjaga keseimbangan.

 

Lalu pertanyaan berikutnya yang harus kita lakukan? Saya teringat sebuah komentar di jejaring sosial dari seorang sahabat saat ada sebuah gagasan diungkapkan seorang sahabat :

“Yang penting implementasinya Bro… Konsep yang hebat hanya akan jadi konsep kalau tidak bisa diimplementasikan. :)”

 

Mari kita mulai dari menelaah komentar tersebut:

Sesungguhnya tulisan ini bukanlah sebuah penyusunan konsep baru,  sebenarnya semuanya sudah diwariskan turun-temurun dari tetua kita di Bali. Namun sekarang  yang menjadi masalaha adalah, dengan meluncurnya kita dalam dimensi Desa(Ruang) dan Kala(Waktu) membuat apa yang tadinya dengan rapi ditata segdemikian ruap, mulai  tidak seimbang lagi oleh tuntutan Globalisasi.

 

Yang coba dilakukan dalam tulisan ini hanya menyadari, mengenali, dan mendefinisikan permasalahan  untuk kemudia bersama-sama mencoba mencari pemecahanya sesuai tempat dan waktunya masing-masing. Jika diibaratkan dalam dunia IT, tulisan ini lebih pada upaya untuk melakukan troubleshooting error yang terjadi. Dalam melakukan troubleshooting kita harus mendefinisikan masalah terlebih dahulu, menganalisa baru melakukan eksekusi/implementasi pemecahannya. Bagaimana kita akan menyelesaikan masalah jika kita sendiri tidak tahu masalah kita apa? Banyak sekarang orang memikirkan sesuatu terlalu berlebih yang harusnya bukan tanggungjawabnya, sampai melupakan apa sebenarnya yang menjadi tanggungjawab terhadap dirinya sendiri dan keluarganya. Mereka terlalu sibuk  menerawang jauh memikirkan negara bahkan dunia, yang pastinya tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk membuat perubahan di level itu. Terlalu jauh berfikir tentang keseimbangan dunia(macro), lupa dengan kesembangan dirinya(micro). Bagaimana akan tercacpai keseimbangan dunia jika unsur2 yang membentuk dunia itu sendiri tidak seimbang? Untuk itulah kenapa tulisan ini juga kita mulai dari Bali, dari kampung halaman penulis sendiri bahkan dari lingkukan tempat dia tinggal dan keluarganya, yang tentunya juga dimulai dari individu penulis sendiri. Karena dengan memulainya dari level yang paling bawah, dalam hal ini adalah individu, akan menjadi sebuah pengalaman terhadap level individu tersebut. Dan jika semua memulai dari level yang sama, termasuk pemerintah, maka semua akan mempunyai bekal pengalaman untuk dimplementasikan dalam level yang lebih besar. Jadi semua pernah melakukan implementasi minimal dalam dirinya sendiri, baru kemudia mencoba untuk mengimplementasikannya untuk masyarakat yang lebih luas. Dengan pengalaman itulah semua masalah tentu akan lebih cepat dan mudah untuk dipahami dan dicarikan solusinya, bukan cuma omong kosong tanpa tau harus berbuat apa.

 

Saya sendiri merasa cukup sukses untuk mengimplementasikannya pada diri saya sendiri, dan sekarang sedang berjuang mati matian untuk mengimplementasikannya dalam level berikutnya yaitu keluarga, dan jujur saja masih sangat sangat jauh dari pencapaian kesuksesan. Untuk itulah saya lebih memilih untuk cenderung menarik diri dari ikatan ikatan organisasi luar di luar keluarga saya, cenderung memilih untuk focus pada pengembangan pendidikan dan perekonomian keluarga tanpa meninggalkan jati diri kami sebagai masyarakat adat dan spiritual.

 

Pilar Spiritual terhadap Pilar Adat

Kedalaman spiritual akan membawa kita kepada pemahaman tentang flexibilitas dari implementasinya dalam ruang lingkup adat. Mencari solusi yang flexible dari sebuah masalah agar tetap sesuai dengan kaidah spirtual, namun tidak kaku manyangkut waktu dan cara pengimplementasiannya. Contoh simple bagaimana ngaben masal menjadi sebuah solusi yang patut digali untuk lebih me-manage dalam dimensi waktu pelaksanaannya, sehingga masyarakatpun akan lebih bisa mempersiapkan diri. Tidak mendadak dan berkali-kali dalam kurun waktu tertentu, sehingga waktu tidak terkonsentrasi dan tak ada kesempatan bagi anggota masyarakat lain untuk memanfaatkan waktunya di bidang lain, habis digunakan untuk kegiatan ngaben yang berkali-kali dan tak terjadwal. Dengan ngaben masal, dimana sawa/jenasah dikurbur/dikinsan terlebih dahulu, akan membuat waktu pelaksanaan ngaben bisa di arahkan dalam masa tertentu. Dengan demikian, anggota masyarakat yang akan terlibatpun bisa mempersiapkan diri, misa dengan pengajuan cuti yang terjadwal dan persiapan materi yang terjadwal pula.

 

Pilar Spirtual terhadap Pilar perekonomian

Kedalaman spiritual juga akan meningkatkan kesadaran setiap individu, dengan mengikis ego dan hawa nafsu untuk saling menjatuhkan atau salaing menguasai, dan lebih meningkatkan unsur kepentingan bersama menuju keseimbangan. Ini sangat penting terutama bagi mereka-mereka yang duduk dalam pemerintahan, yang harusnya menjadi nahkoda dalam kapal sebuah masyarakat, untuk bisa melihat kepentingan bersama lebih utama ketimbang keinginan, ego, dan nafsu untuk memperkaya diri sendiri. Di level individu masyarakat sendiri, kedalaman spiritual akan menganalkan mereka lebih dalam kepada kata “Cukup”, dengan demikian batasan kecukupan akan mampu mengalihkan energi yang berlebih untuk membantu satu sama lain.

 

Pilar Adat, Seni dan Budaya terhadap Pilar Spiritual

Sudah jelas unsur kebersamaan dan usur estetika menjadi dari sebuah masyarakat adat adalah unsur-unsur penting dalam mendukung pengembangan Spiritual. Apalagi dalam masyarakat Bali yang menjadikan jalan Bhakti adalah jalan utama dalam perjalanan spiritual mereka. Jalan ini tak lepas dari unsur estetika yang menjadi media dalam melakoninya.

 

Pilar Adat, Seni dan Budaya terhadap  Pilar Perekonomian

Ini adalah unsur yang paling menjadi sorotan belakangan dalam masyarakat Bali, yang adalah sebuah daerah yang mengandalkan sektor pariwisata sebagai pondasi perekonomian utamanya. Sudah menjadi hal yang biasa bila unsur seni dan budaya Bali memang menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia pariwisata. Bagaimana keunikan dan keberagaman adat, seni dan budaya menjadi daya tarik yang mampu menghipnotis para pendatang, tidak saja untuk menikmati, tapi juga  ikut serta menggali potensi-potensi ekonomi di dalamnya. Di sanalah masalah mulai timbul saat persaingan antara penduduk lokal dan pendatang mulai memanas. Sering kali kegiatan adat yang terlalu kaku malah menjadi bumerang bagi sektor perekonomian masyarakat lokal bali sendiri. Kesempatan pengembangan diri sangat sedikit dikarenakan lebih banyak waktu habis untuk tuntutan adat. Ada banyak solusi yang bisa ditawarkan untuk masalah ini, tergantung tempat dan waktunya. Seperti contoh ngaben masal tadi. Selain flexibilitasnya dalam management waktu, juga bisa menekan pembengkakan biaya penyelenggaraannya karena banyak upakara dan upacara yang bisa disatukan pelaksanaannya. Di beberapa daerah di bali bahkan sekarang ngaben masal menjadi kewajiban dalam Awig-awig, sehingga menuntut setiap masyarakatnya untuk mematuhinya. Memang kadang ada unsur-unsur lain seperti gengsi dan status sosial yang membuat ngaben masal ini dinomberduakan, namun kembali lagi, jika dalam sebuah keluarga memiliki tingkatan filosofis dan spiritual yang kuat dan mendalam hal ini tidak akan menjadi halangan lagi, bahkan kelebihan baik energi maupun materi yang dimiliki dengan sukarela akan dihibahkan pada anggota masyarakat lain yang membutuhkan dalam proses ngaben masal tersebut.

 

Pilar Perekonomian terhadap  Pilar Adat dan Spiritual

Perekonomian tentu saja adalah unsur terpenting dalam sebuah masyarakat untuk bisa berkembang. Baik untuk kepentingan adat, seni, budaya, pendidikan dan tenologi maupun spiritual, membutuhkan dukungan finansial yang cukup dalam pengembangannya.

 

Keseimbangan pilar-pilar patut kita jaga bersama, karena kembali lagi tingkat keseimbangan sebuah masyarakat tergantung kepada bagai mana tingkat keseimbangan anggota masyarakatnya sendiri. Semoga uraian dan contoh-contoh kecil dalam tulisana ini bisa memberikan gambaran yang membuka mata kita tentang keadaan Bali sekarang ini, dan memotivasi kita semua guna lebih mengembangkan diri baik di level individu maupun di level masyarakat. Tak ada keinginan menggurui, hanya ingin berbagi pemikiran dan solusi, tentu hanya akan dapat diimplementasikan menyesuaikan dengan tempat dan waktunya. Namun berbagi pemikiran-pemikiran seperti ini harusnya menjadi motivasi untuk menemukan solusi untuk mesalah yang dihadapai sesuai konsep Desa, Kala, Patra.

 

Jangan selalu bersikap pesimis, seperti kebanyakan masyarakat Bali saat ini. Seperti komentar di atas, selalu menunggu solusi dan implementasi dari orang lain, tanpa mau menemukan, merumuskan dan mengimplementasikan sendiri untuk dirinya sendiri. Hanya bisa mengkritik pedas solusi yang tidak sesuai dengan dirinya, dan belum tentu tidak sesuai buat orang lain, ya karena seperti yang saya uraikan tadi, permasalahan di level individu tentu akan berbeda, dan solusinyapun juga akan berbeda sesuai Desa, Kala, Patra.

 

“Konsep memang akan hanya menjadi sebuah konsep jika tidak diimplementasikan, tapi apakah implementasi tanpa sebuah konsep yang matang juga akan selalu lebih baik?”

Seperti halnya pilar-pilar yang membangun Bali, kita tidak bisa hanya menilai dari salah satu pilar saja, dan menghakimi pilar lain. Kita harus bisa melihatnya secara menyeluruh, karena tentu semua ada keterkaitan satu sama lain. Begitu pula antara konsep dan implementasinya, tidak bisa kita menilai bahwa implementasi lebih penting dari pada konsep, begitu juga sebaliknya. Bahkan kalau mau dilihat dalam dunia Enginering seperti dunia IT, analisa, perencanaan dan design selalu menajdi pekerjaan yang lebih mahal ketimbang implementasi. Namun ada baiknya kita lihat keduanya secara lebih menyeluruh, secara Hitam dan Putih (Rwabhinedha).

 

 

Semoga bermanfaat.

Kemenangan Dharma, Dimulai Dari Kemenangan Individu itu Sendiri

Hari ini, 6 July 2011, setelah letih berkutat dengan pekerjaan seharian, seperti biasa diselingi dengan berjalan-jalan di “tembok-tembok” teman-teman di jejaring sosial Facebook. Cukup melegakan membaca banyak sekali ucapan-ucapan Selamat Hari Raya Galungan, mengingat hari ini di Bali teman-teman saya pada libur, sedangkan saya di Jakarta harus tetap bekerja seperti biasa. Dengan berkembangnya teknologi belakangan ini, jarak seakan tidak membatasi lagi. Kami bisa saling bersilaturahmi walaupun dipisahkan oleh jarak ribuan Km, dan seperti sekarang ini, sayapun bisa merasakan perayaan suasana hari raya yang paling saya tunggu waktu saya masih di Bali dulu. Sebagian besar ucapan-ucapan tersebut bernada positif, penuh doa dan yang pasti disertai dengan kegembiraan atas menangnya Dharma melawan Adharma, senada dengan tujuan dari Hari Raya Galungan itu sendiri. Benar-benar jarak bukan lagi halangan kami untuk berbagi. Jika zaman dahulu para tetua kita hanya mengandalkan kekuatan pikiran untuk menembus batasan ruang dan waktu, zaman sekarang teknologi membuat orang awampun bisa menikmati “dunia yang semakit datar” tanpa pembatas jarak dan waktu lagi, walaupun teknologi itu kadang menggunakan resources alam yang berlebihan, jika dibanding “teknologi” tetua kita zaman dahulu yang hanya mengoptimalkan kemampuan pikiran dan intuisi mereka, tanpa mengakibatkan ketidak seimbangan alam :)

 

Namun kemarin ada sebuah kalimat di twitter yang sedikit, menurut saya, pesimistik dalam  memaknai perayaan Kemenangan Dharma ini. “Jika kita merayakan Galungan setahun 2 kali untuk kemenangan Dharma, kenapa semakin lama Adharma yang malah lebih dominan?”, kira-kira seperti itu isi kutipan seorang rekan di Twitter menyikapi perayaan Galungan. Semoga tidak banyak orang, yang selalu pesimis dalam menyikapi semua masalah yang “dititipkan” kepadanya, seperti rekan kita di atas tadi. Mungkin kita harus lebih dalam lagi menyelami makna-makna yang tersirat dalam setiap warisan yang dititipkan oleh para tetua, yang menurut saya malah jauh lebih paham bagaimana keadaan yang akan dihadapi anak cucunya ketimbang anak cucunya sendiri, sehingga mereka dengan cerdik mewariskan permata-permata yang menuntut kita untuk belajar menyelaminya lebih dalam, bukan hanya menunggu disuapi saja. Karena sesunggunya dengan menyelami sendiri, tidak hanya hafalan dari kitab-kitab sucilah kita akan menjadi manusia yang lebih dewasa dan matang dalam menjalani hidup kita yang singkat di dunia ini.

 

Buat saya pribadi, Dharma bukanlah sesuatu yang berada di luar atau datang dari luar, apalagi kondisi masyarakat atau keadaan alam di luar individu manusia, tapi Dharma adalah kwalitas keseimbangan dari reaksi individu terhadap hal-hal baik maupun buruk, yang terjadi atau yang datang dari luar individu tersebut. Semakin individu melepaskan keberpihakan terhadap setiap hal yang datang pada dirinya, semakin baik kwalitas Dharmanya. Dan  ”Kemenangan Dharma” adalah keberhasilan Sang Diri bereaksi tanpa menghakimi segala hal yang datang, baik ataupun buruk, semua di terima dengan welas asih, cinta kasih dan penuh keiklasan serta penyerahan sepenuhnya kepada Dia Yang Transcendence.

 

Jadi jika menyikapi kenyataan sekarang, dimana keburukan lebih dominan, seperti korupsi, ketidak adilan, bobroknya instatnsi peradilan negara dll, bukanlah pertanda Dharma sudah tenggelam dam Adharma memenangkan pertandingan. Semua itu adalah reaksi Alam, dengan hukum Karmanya, dalam rangka mencapai Keseimbangan dan Harmonisasi,  walaupun itu juga juga adalah reaksi dari aksi manusia secara keseluruhan, yang lebih banyak menyebabkan ketidak seimbangan itu sendiri. Alam sesunguhnya tidak memiliki keinginan untuk menghukum atau memusuhi manusia, tapi Alam akan selalu bergerak ke arah keseimbangan dan keharmonisan dengan “cambuk” hukum Karma yang Ia pecutkan  sebagai reaksi,  ke setiap aksi mahluk dalam naungannya. Untuk itulah sebenarnya kemenangan atau kekalahan Dharma ukurannya  adalah lebih pada sikap individu dalam menyikapi segala yang terjadi, bukan keadaan lingkungan sekitar individu tersebut. Penuh kesadaran bahwa Karma lah yang sedang bekerja, bahwa segala baik dan buruk yang datang adalah reaksi dari aksi individu itu sendiri. Dan sesungguhnya apapun yang terjadi di sekitar kita, jika kita memiliki keteguhan dan kedamaian batin, kebahagiaan itu akan selalu ada menyertainya. Itulah makna Kemenangan Dharma buat saya, dan ke sanalah saya ingin melangkahkan perjalanan saya, walaupun baru saya mulai.

 

Dan akhir dari tulisan ini ingin saya berucap Rahajeng Rahina Galungan dan Kuningan. Semoga Kedamaian dan Kebahagiaan selalu menjadi pilihan kita (Dharma) dalam kondisi lingkungan yang beragam dalam hidup kita. “Karena Kemenangan Dharma, Dimulai Dari Kemenangan Individu itu Sendiri Menghadapi Hitam-Putih Kehidupan”

 

Aum

Sarvesham svastir bhavatu

Sarvesham shantir bhavatu

Sarvesham purnam bhavatu

Sarvesham mangalam bhavatu

 

Sarve bhavantu sukhinah

Sarve santu niramayah

Sarve bhadrani pashyantu

Makaschit dukkha bhaag bhavet

 

Aum Shanti Shanti Shanti

 

Semoga semua mahkluk sukses.

Semoga semua mahluk dalam kedamaian.

Semoga semua mahluk merealisasi kesadaran.

Semoga semua mahluk sejahtera.

Semoga semua mahkluk berbahagia.

Semoga semua mahkluk bebas dari ketidak-sempurnaan.

Semoga semua mahkluk menolong kesejahteraan mahluk lain.

Semoga semua mahkluk bebas dari penderitaan.

Aum, damai damai damai.

 

Persepsi Hitam dan Putih

Hari ini saya tidak sengaja membaca sebuah tulisan di sini yang, seperti biasa mengundang berbagai komentar dan persepsi dari pembacanya. Sebenarnya saya sendiri belakangan jarang membaca atau menonton berita di TV atau di media-media Online. Saya letih berkutat dengan pemahaman-pemahaman yang lama kelamaan makin menjauhkan diri saya dari apa yang disebut kebahagiaan. Semua berpersepsi, berargumen, berdebat dan berusaha menyatakan bahwa apa yang mereka pahami adalah kebenaran, dan begitu juga saya. Namun bukannya lebih dekat dengan kebahagiaan, tapi malah membuat saya letih berargumen, berpersepsi dan semakin menjerumuskan saya pada situasi kebingungan, dengan sebuah pertanyaan di kepala “Yang mana yang benar sih ??”.

 

Suatu hari ada seorang teman yang menyampaikan sebuah kutipan, yang sungguh-sungguh membuat saya tersentak. Kutipan itu kurang lebih berbunyi “Buat para Tetua di Bali, menuntut keadilan atau kebenaran adalah juga hal yang menjauhkan diri kita dari kedamaian”. Seketika saya tersentak dan tenggelam dalam perenungan yang mendalam tentang makna apa yang ingin disampaikan oleh kutipan tersebut. Saya teringat akan sebuah filosofi dasar yang diwariskan para Tetua di Bali dan dijadikan pondasi bagi kehidupan masyarakat Bali sampai hari ini. RwaBhinedha (serupa dengan Yin-Yang di China), adalah sebuah filsafat yang memberi pemahaman tentang hitam dan putih akan selalu berdampingan dan saling melengkapi satu sama lain.

 

Tetua di Bali juga mewariskan sebuah konsep Penengen-Pengiwa(kanan-kiri) seperti perwujudan Barong dan Rangda, sebagai perlambang kenan dan kiri. Keduanya dilambangkan selalu larut pertarungan yang tanpa henti, dan tanpa ada pemenangnya. Dan sayapun mulai bertanya-tanya, apa sebenarnya makna tersirat dari warisan-warisan tersebut? Apakkah kebaikan itu yang menjadi tujuan dan keburukan harus ditinggalkan? Apakah kesenangan itu lebih baik dari kesedihan dan sebaliknya? Apakah putih itu lebih baik dari hitam? kenapa saya tidak pernah menemukan batasan yang jelas antara kedua sisi dari hal-hal yang berlawanan tersebut? Kenapa seperti halnya persepsi-persepsi dalam dunia politik belakangan, tak ada kepastian antara mana yang benar dan mana yang salah? Kenapa semua berpersepsi baik dan buruk menurut pemahaman mereka sendiri? Lalu dimana kebaikan yang sejati dan keburukan yang sejati pula?

 

Lalu setelah kita menemukan kebaikan dan keburukan yang sejati beserta batasannya pun, apakah otomatis membuat yang baik itu paling bermanfaat, dan yang buruk itu tidak ada manfaatnya sama sekali? Apakah otomatis membuat yang kesenangan itu selalu lebih bermanfaat ketimbang penderitaan? Lalu kenapa saya lebih banyak melihat orang-orang yang terjerumus dalam penderitaan, jauh lebih “manusiawi” dan “matang” ketimbang mereka yang hidupnya penuh dengan kesenangan?  Apakah otomatis membuat Putih itu lebih indah ketimbang Hitam?.

 

Mungkin apa yang diwariskan oleh para Leluhur di Bali inilah yang saya jadikan jawaban tentang semua pertanyaan di atas. Berusaha menarik diri dari persepsi akan berbagai dualisme yang datang menghinggapi pikiran, yang membuat kita lebih bingung dan terjerumus dalam ketidakbahagiaan dalam diri. Belajar melarutkan diri dalam keheningan batin dan pikiran untuk berhenti memberikan persepsi akan sesuatu, mengalir apa adanya, iklas dalam perjalanan dan semua yang datang dalam kehidupan. Bagi sebagian orang, sikap seperti ini dipersepsikan menjadi sebuah kelamahan, sebuah kepasrahan tanpa motivasi kehidupan. Namun apa yang belakangan saya rasakan, walaupun masih dalam tahap pembelajaran, jauh dari apa yang mereka bayangkan. Menarik diri dari berbagai persepsi, bukan berarti membiarkan diri tenggelam dalam kelemahan tanpa perjuangan, namun sesungguhnya sebuah sikap yang bertujuan untuk mengistirahatkan batin, guna mempersiapkan diri menerima berbagai  tantangan dan permasalahan/pertanyaan sesuai dengan ruang dan waktu secara lebih efektif. Karena sesungguhnya, hanya dengan pikiran yang jernih dan ketengan batin, yang tanpa diombang-ambing persepsilah, kita akan mampu menemukan jawaban-jawaban semua permasalahan secara lebih efektif dan efisien. Ibarat sebuah cangkir teh, hanya dengan mengosongkan isi cangkir, yang sebelum penuhlah kita akan bisa mengisinya kemabali.

 

 

Sebuah Sutra dari Buddha yang mungkin bisa menjadi renungan:

Prajna Paramita Hridaya Sutra
(perfect wisdom heart sutra)

Om Homage to the Perfection of Wisdom the Lovely, the Holy !

Avalokita, the Holy Lord and Bodhisattva, was moving in the deep course of the Wisdom which has gone beyond.

He looked down from on high, He beheld but five heaps, and He saw that in their own-being they were empty.

Here, O Sariputra,

form is emptiness and the very emptiness is form ;

emptiness does not differ from form, form does not differ from emptiness, whatever is emptiness, that is form,

the same is true of feelings, perceptions, impulses, and consciousness.

Here, O Sariputra,

all dharmas are marked with emptiness ;

they are not produced or stopped, not defiled or immaculate, not deficient or complete.

Therefore, O Sariputra,

in emptiness there is no form nor feeling, nor perception, nor impulse, nor consciousness ;

No eye, ear, nose, tongue, body, mind ; No forms, sounds, smells, tastes, touchables or objects of mind ; No sight-organ element, and so forth, until we come to :

No mind-consciousness element ; There is no ignorance, no extinction of ignorance, and so forth, until we come to : There is no decay and death, no extinction of decay and death. There is no suffering, no origination, no stopping, no path.

There is no cognition, no attainment and no non-attainment.

Therefore, O Sariputra,

it is because of his non-attainmentness that a Bodhisattva, through having relied on the Perfection of Wisdom, dwells without thought-coverings. In the absence of thought-coverings he has not been made to tremble,

he has overcome what can upset, and in the end he attains to Nirvana.

All those who appear as Buddhas in the three periods of time fully awake to the utmost, right and perfect Enlightenment because they have relied on the Perfection of Wisdom.

Therefore one should know the prajnaparamita as the great spell, the spell of great knowledge, the utmost spell, the unequalled spell, allayer of all suffering, in truth — for what could go wrong ? By the prajnaparamita has this spell been delivered. It runs like this :

gate gate paragate parasamgate bodhi svaha.

( Gone, gone, gone beyond, gone altogether beyond, O what an awakening, all-hail ! — )

This completes the Heart of perfect Wisdom.

 

Switch to our mobile site